Dumfries: Sang Bimasakti dan Pondok Kayu di Musim Dingin

Aku agak khawatir sebenarnya saat seorang kawan tertarik dengan rencana liburan akhir pekan dadakanku: menyambangi perkemahan di sebuah desa kecil di daerah Dumfries. Khawatir kalau dia tak biasa dengan gaya perjalananku yang serba impulsif dan penuh improvisasi. Sudah sejak berhari-hari sebelumnya, aku ingin sekali berkemah di musim dingin, walaupun hanya sebatas tidur di pondok kecil dari kayu.  Ya, singkat cerita, akhirnya kami berdua berbulat tekad ke sana!

Aku tidak mengecek bagaimana sampai ke area perkemahan. Aku hanya mengecek jadwal bus ke Kota Dumfries. Kami bertemu di stasiun bus Glasgow dan berangkat sore hari, sekitar jam empat. Perjalanan dari Glasgow ke Dumfries sekitar dua setengah jam; waktu yang cukup lama untuk bercakap-cakap dengan kawan seperjalanan. Di Dumfries, kami disambut oleh seorang kawan yang kuliah di sana. Malam itu, kami mampir ke rumahnya untuk sekadar menghangatkan tubuh karena bus menuju tempat kemah kami ternyata akan tersedia satu setengah jam lagi.

Di tempat si kawan, kami meregangkan apa yang perlu diregangkan, dan membuang apa yang perlu dibuang. Maklum, kami piker sih, kami tidak mau repot-repot kalau harus berurusan dengan toilet pas di kemah nanti. Setelah bercakap-cakap sebentar, si kawan menawarkan makan malam. Tak mau menunggu sampai tawaran kedua, kami berdua cepat-cepat mengangguk antusias. Kedua kawan kami yang di sana segera berkolaborasi memasak nasi goring seafood. Kecakapan mereka memasak pantas untuk segera membuka warung nasi goreng sepulang dari Inggris. Rasanya pun tak usah diragukan! Aku sampai harus menguras habis mangkuk tempat nasi goreng sampai tak ada sebutir nasi yang tertinggal. Tempat si kawan nyaman sekali: hangat. Apalagi setelah kenyang. Sempat terbesit untuk berkemah di ruang tamu mereka juga, tapi sayang kemah di sana sudah dibayar!

Jam 8, kami kembali ke halte bus. Awalnya aku khawatir busnya sudah lewat, ternyata busnya hanya datang terlambat. Kami butuh waktu 30-40 menit menuju Dalbeatti, pemberhentian selanjutnya, sebelum kami naik bus yang lain – yang diam-diam aku yakin sudah tidak ada – menuju tempat kemah. Setelah turun di Dalbeatti, kami menuju pemberhentian bus melihat jadwal menuju tempat kemah kami. Benar saja, semua bus berhenti beroperasi sejak sore tadi. Kami tertawa! Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, hanya 30-45 menit berjalan kaki. Tapi, persoalan menjadi lain ketika suhunya sedingin es lilin. Sambil berjalan, aku kemudian mencoba menaikkan jari jempol ke setiap mobil yang lewat, tapi ternyata tak berhasil. Kami tetap berjalan sambil berharap ada orang yang mau menampung dua orang asing yang sedang berjalan kedinginan di gelapnya malam Skotlandia. Lama tak berhasil, kami akhirnya pasrah berjalan menuju kemah. Langit malam itu bersih sekali. Galaksi Bimasakti jelas terlihat seperti gugusan susu. Indah sekali! Mungkin kalau malam itu tak sedingin es, aku akan telentang menghadap langit, seperti yang sering kulakukan dalam perjalanan kapal malam Pulau Bacan – Ternate.

Sedang asik menikmati malam, sebuah mobil berhenti di depan kami. Aku melirik si pengendara. Ternyata seorang ibu yang sepertinya baru pulang dari sebuah acara, terlihat dari pakaian yang dia kenakan. Dia menanyakan kemana tujuan kami dan segera mengajak kami masuk ke mobilnya. Aku agak tidak percaya. Kami bahkan sudah tidak mengacungkan jempol kami untuk minta bantuan. Kami bahkan diantarkan sampai ke dalam perkemahan. Ah, semoga beliau diberkati!

Perkemahan ini ternyata lebih luas dari yang kukira. Pondok kami ada di sebuah bukit kecil. Kami segera menuju pondok kami, diantar oleh petugas kemah yang menggerutu karena harus terbangun oleh dering panggilan telepon dariku. Maklum, jam kedatangan  kami memang sudah jauh di luar jam kedatangan. Setelah melepaskan barang bawaan di pondok, kami berjalan-jalan sebentar di area perkemahan, masih mencoba menikmati langit yang luar biasa bersih. Beberapa kali, si kawan terpeleset karena jalanan batu sudah mulai dilapisi es. Aku ingin tertawa lepas sebenarnya, tapi urung karena mulutku kaku karena kedinginan.

Puas melihat langit – sebetulnya karena sudah tidak kuat dingin, sih – kami masuk ke pondok kayu kami. Aku segera memakai perlengkapan tidur dan masuk ke sleeping bag. Si kawan masih membaca buku yang dibawanya. Dia bilang masih ingin menikmati suasana saat itu dengan membaca. Malam itu, suhu mulai menurun dan menunjukkan angka -6.

Pukul 4 pagi, aku bangun karena aku seperti mendengar suara rintih manusia. Aku duduk dan menoleh ke arah si kawan. Dia ternyata menggigil. Memang, si kawan tidak bawa sleeping bag saat itu. Dia hanya bawa baju hangat dan sarung tangan. Aku segera membangunkan dengan perasaan sedikit khawatir. Kami pun bergantian memakai sleeping bag, sambil menunggu dapur dibuka jam 6 pagi.

Jam 6 pagi, kami buru-buru keluar pondok dan bergegas menuju dapur. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang berjalan dengan kudanya. Apa mereka tidak kedinginan?



Sampai di dapur, kami menyalakan segala sesuatu yang bisa mengeluarkan panas, termasuk penghangat ruangan, kompor, dan oven. Sambil menghangatkan badan, kami sekaligus memanaskan sarapan yang sudah kami bawa dari Glasgow. Kenikmatan pagi itu juga tak lepas dari mi instan dan mecinnya yang begitu menggoda.

Puas menghangatkan diri di dapur, kami segera keluar melihat area perkemahan yang sesungguhnya. Matahari sudah terbit terang benderang. Ternyata kedinginan tadi malam cukup dingin untuk membekukan dua buah danau yang ada tak jauh dari perkemahan. Lapangan rumput juga ditutupi es, membuat domba-domba harus mengenyahkan lapisan es-es terlebih dulu dengan mulut mereka sebelum menyantap rumput di bawahnya. Jalanan batu tertutup es, membuat si kawan harus jatuh untuk kedua kalinya. Kali ini, aku bisa tertawa lepas karena mulutku tak sekaku tadi malam. Matahari menjadi penghangat di dingin yang keterlaluan pagi itu. Perkemahan itu akhirnya tampak indah saat itu. Suasana desa sangat terasa kental dengan hutan-hutan yang mengelilinginya.


Puas menjelalah area perkemahan pagi itu, kami bersiap-siap untuk pulang ke Glasgow. Kami meninggalkan area perkemahan setelah menaruh kunci di pondok pejaga kemah. Pagi itu, baru terlihat jelas hutan-hutan yang  kami lewati malam sebelumnya. Kami kembali mengacungkan jempol tangan ke setiap mobil yang lewat. Pagi itu, nasib kami lebih baik. Tak lama, sebuah mobil berhenti agak jauh di  depan kami. Mereka mungkin agak ragu tadinya, tapi kemudian memutuskan berhenti. Kami berlari menghampiri, takut mereka berubah pikiran. Ternyata ada dua orang wanita di dalam mobil itu. Setelah berkenalan dan bercakap-cakap, ternyata mereka juga menuju Dumfries dan menawarkan diri untuk mengantar sampai Dumfries. Tentu saja kami tak menolak! Kami tak perlu naik bus dari Dalbeatti menuju Dumfries.


Sampai di Dumfries, kami merayakan keberhasilan si kawan melewati malam dingin tanpa sleeping bag dengan menyantap es krim Italia, sambil menunggu bus menuju Glasgow yang datang beberapa menit kemudian.


Teks: Eko Siphrapua Sijabat
Foto: Eko Siphrapua Sijabat

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment