Fauzia Nurul Izzati, Peraih Penghargaan Professor John Oliver Prize


Fauzia Nurul Izzati, yang kerap disapa Ucha, memulai karirnya di bidang farmasi di Universitas Gadjah Mada dengan mengambil pendidikan S1 Farmasi. Ia kemudian melanjutkan pendidikan profesi di universitas yang sama, dimana ia tertarik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di dunia farmasi. Dalam hal ini, University of Glasgow menjadi pilihan Ucha. Universitas ini dipilih karena memiliki jurusan yang lebih spesifik daripada universitas lain di Britania Raya. Jurusan tersebut adalah Forensic Toxicology dengan core subject kimia yang merupakan subjek favoritnya.

Kurangnya pakar di bidang forensik di Indonesia memberikan tantangan dan ketertarikan khusus bagi Ucha untuk mendalami forensic toxicology. Menurut Ucha, University of Glasgow juga menawarkan program yang menarik bagi jurusan ini, yaitu kesempatan untuk mengikuti course di Diploma in Forensic Medical Sciences yang diselenggarakan oleh University of Glasgow dan Academy of Forensic Medical Sciences bersama dengan The Worshipful Society of Apothecaries of London, salah satu badan profesi tertua dan ternama di Britania Raya.

Keseriusan dan ketertarikan Ucha pada jurusan Forensic Toxicology mengantarkannya untuk meraih penghargaan Professor John Oliver Prize. Penghargaan ini diberikan setiap tahunnya pada mahasiswa Forensic Toxicology dengan disertasi/proyek terbaik yang dianggap mempunyai kontribusi terbesar di Forensic Toxicology. Penilaian untuk mendapatkan penghargaan ini tidak hanya melibatkan pengajar dari University of Glasgow, tapi juga external reviewer.

Ketika mempersiapkan disertasi, Ucha diberikan 20 pilihan judul/topik disertasi. Setiap mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih salah satu topik kemudia lecturer akan menentukan proyek berdasarkan topik tersebut. Judul disertasi Ucha adalah "The Analysis and Interpretation of Mass Spectrometric Data from Synthetic Cathinones". Disertasi ini membandingkan spektra massa dari synthetic cathinones, mencari perbedaan dan persamaanya, serta membuat prediction model untuk senyawa-senyawa yang belum diketahui spektra massanya.

Alasan Ucha memilih topik ini adalah karena topik ini menyangkut synthetic cathinones yang merupakan salah satu novel psychoactive substance, yaitu senyawa-senyawa baru yang dewasa ini banyak disalahgunakan sebagai obat terlarang. Alasan lainnya adalah ketertarikan Ucha pada subjek spektro massa. Ketika mendalami pendidikan sarjana (S1), Ucha mengikuti perkuliahan spektrometri/elusidasi struktur yang mempelajari segala macam spektrometri yang digunakan di dunia farmasi. Ketika mengambil master degree, subyek ini diperdalam dalam mata kuliah Advanced Instrumentation

Awalnya Ucha sempat khawatir karena latar belakang pengetahuannya di bidang Mass Spectrometric sangat kurang. Sempat terpikir untuk mengganti topik karena topik ini "sangat kimia" sedangkan latar belakang Ucha adalah farmasi. Sebelum memulai, Ucha sibuk memperdalam materi ketika teman-teman kelas yang lain sudah mulai membuat proposal. Selain itu topik yang dibahas, yaitu synthetic cathinones, merupakah hal yang baru, sehingga sumber literatur pun terbatas, khususnya Mass Spectrometric Data from Synthetic Cathinones. Karena keterbatasan tersebut, proyek yang harusnya ‘dry project’ (tidak perlu mengadakan penelitian laboratorium) akhirnya menggunakan penelitian laboratorium untuk mendapatkan mass spectrometric. Namun, hasil penelitian laboratorium kurang baik karena terdapat masalah dengan instrumen. Akhirnya proyek disertasi Ucha tetap dry project.


Sedangkan dalam penyusunan disertasi Ucha memiliki tantangan lainnya karena belum ada proyek sejenis di tahun-tahun sebelumnya. Implikasinya, Ucha mengalami sedikit kesulitan dalam mempresentasikan data dan hasil. Untungnya Ucha mendapatkan banyak bantuan dari sesama pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Glasgow. Setelah selesai menyusun disertasi, Ucha meminta bantuan kepada Nor Basid yang ahli di bidang kimia untuk mengoreksi validitas tulisannya. Ia juga meminta second opinion dari Isnia Fitrisanti yang mengambil PhD di departemen yang sama dan bantuan Elizabeth Cahya yang mempelajari Medicine di bawah school yang sama untuk proses proofreading. Hal ini dilakukan karena departemen Ucha tidak mengizinkan adanya external proofread dari jurusan lain yang ditakutkan akan mengubah konteks kata-kata yang dipilih.

Teks: Erie Febriyanto
Foto: University of Glasgow

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment