Timbul Budi Santoso: Anak Petani, Keliling Dunia Karena Bank Indonesia


Timbul Budi Santoso meraih gelar sarjana ekonomi tahun 1996 di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Anak seorang petani asal Kebumen ini punya prestasi gemilang sehingga biaya S1-nya cukup tertutupi oleh beasiswa Supersemar yang ketika itu nominalnya Rp 35.000,- per bulan. Selain mengandalkan beasiswa, sedari masa program sarjana, Timbul juga aktif mengikuti berbagai lomba karya tulis ilmiah.

“Lumayan, kalau kita ajukan proposal, bisa dapat bantuan penelitian dari fakultas. Begitu juga jika lulus seleksi untuk presentasi di kota lain. [Kita] dapat uang perjalanan dan kalau menang, uangnya bisa masuk kantong sendiri”.

Tahun 1998, Timbul memasuki fase baru di hidupnya. Dirinya diterima di institusi perbankan bergengsi di tanah air, yang tak lain adalah Bank Indonesia. Tak ingin jadi karyawan yang biasa – biasa saja, Timbul terpikir untuk mengenyam pendidikan ke luar negeri saat dirinya sudah bekerja 5 tahun di BI.

“Belajar bahasa Inggris setelah 5 tahun kerja di BI […] BI mensyaratkan skor IELTS 6.5 [sebagai syarat untuk mendapat beasiswa BI]. Ternyata naikin skor 0.5 tidak segampang dugaan. Mesti ambil kursus berulang kali. Total [saya] enam kali tes berturut – turut dengan skor 6. Barulah saat test yang ketujuh, saya memenuhi standard skor untuk beasiswa BI”., kenang Timbul.

Akhirnya pada tahun 2008, Timbul mendapatkan stempel imigrasi dari negeri kanguru – Australia. Selama dua tahun, ayah dari Yoss, Ardell dan Eileen ini menimba ilmu di program Master of Finance The Australian National University, Canberra, Australia.

Alih – alih merasa exhausted setelah dua tahun menjadi mahasiswa master, Timbul mendobrak zona nyaman dan menyusun proposal untuk program S3. Gayung bersambut, Timbul kembali mendapatkan beasiswa dari BI sekaligus mengamankan bangku studi doktoral di Business School University of Strathclyde pada tahun 2013.

Meriset ‘Manajemen Devisa’
Riset yang dijalani Timbul di Strathclyde secara garis besar terkait dengan pengelolaan dana publik yang nilainya ratusan milyar dolar. Topik ini linier dengan penelitian Timbul saat menjalani studi master. Riset ini tidak hanya berperan sebagai ‘ambisi’ akademik Timbul semata, tapi juga terkait dengan tanggung jawabnya di Bank Indonesia. Sejak tahun 2003, Timbul bertugas di bagian pengelolaan devisa Bank Indonesia.

“Prinsip pengelolaan cadangan devisa mencakup 3 hal: liquidity, security dan profitability. Terkadang prinsip – prinsip ini tidak bisa dicapai secara bersamaan. Sering terjadi trade-off. Sementara, ketersediaan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar – tawar.

Riset saya mendefinisikan pada kondisi apa kita lebih mengutamakan safety dibanding profitability dan bagaimana cara mencapainya. Begitu pula sebaliknya, kapan return lebih penting dibanding safety”, paparnya.

Keliling Dunia
Dari pojok selatan – Australia – menuju pojok utara bumi – Skotlandia, seorang Timbul benar – benar cerminan sosok yang menjadikan segala keterbatasan sebagai pelecut untuk berlari kencang. Timbul menggambarkan dirinya di mata teman – temannya adalah sosok yang jarang serius dan ‘cenderung cengengesan’. Dia bukanlah sosok menonjol di pergaulan, dan bukanlah juara kelas. Tapi di balik itu, motivasinya untuk menjadi achiever selalu tertanam.

“Kalau kamu bisa tembus perguruan tinggi negeri [kamu] boleh kuliah. Tapi kalau tidak, pulang!. Nyangkul!”, tutur Timbul menirukan ucapan almarhum ayahnya.

Kini, jangankan bisa tembus perguruan tinggi negeri, perguruan tinggi di luar negeri pun ditaklukannya. Selain beasiswa untuk studi di luar negeri, Timbul juga seringkali mengikuti konferensi tingkat dunia mengenai keuangan global.

“Berbagai course, training, conference [sudah saya ikuti] antara lain di New York, Frankfrut, London, Paris, Hongkong, Singapura, Auckland, Sidney, dan Luxemburg”, bebernya.

Gemilang secara akademik, cemerlang di pekerjaan. Buktinya, tahun 2010 hingga jelang keberangkatannya ke Glasgow, Timbul dipercaya menjadi portofolio manager di Bank Indonesia cabang Singapura.

Sederet kalimat ini berusaha merangkum sosok Timbul Budi Santoso:
Masa kecilnya dihabiskan di sawah, di sudut desa yang baru diterangi listrik pada tahun 1995. Kini sang bapak beranak tiga, ternyata mampu buktikan kecemerlangannya. Prestasi dan dedikasinya tercurah di institusi prestigius – Bank Indonesia – yang akhirnya membawanya keliling dunia.

Penulis: Okky Irmanita

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment