Di Balik Layar ICD 2016

Di balik kerja – kerja organisasi banyak sosok kreatif dan pekerja keras yang merelakan waktu, tenaga serta pemikiran kreatif. PPI Greater Glasgow mengangkat cerita sosok di balik layar acara Indonesia Cultural (ICD) 2016 – Experience Indonesia.


Aulia Amanda Santoso adalah lokomotif dari sebagian besar aspek kreatif di ICD. Alumni Departemen Desain Produk Institut Teknologi Bandung ini sedari belia sangat antusias dengan seni dan kreativitas.

Keterlibatannya di ICD tak lain karena Amanda berstatus sebagai pelajar Indonesia di Glasgow. Amanda menempuh studi master di Glasgow School of Arts untuk tahun ajaran 2015/2016.

Sebelum ke Glasgow, Amanda juga adalah creative director / designer. Beberapa karyanya mendapat penghargaan dari dunia internasional. Bersama lima orang rekannya, Amanda mendapat Gold Award untuk karya perhiasan bertajuk “Palapa”. Penghargaan ini adalah bagian dari Indonesia Good Design Selection tahun 2010.

Di tahun 2013, karya Amanda “Joglowoglo The Moving House” menjadi finalis di ajang Art Books Wanter International Award dari Edition Lidu, di Praha, Ceko. Masih di bidang literasi dan pemberdayaan anak, di tahun 2013, awardee beasiswa LPDP ini juga menjadi Manajer proyek social movement bernama Alun Ulin. Alun Ulin adalah kampanye untuk penyediaan ruang publik yang pro – anak. Implementasinya berupa beberapa seri proses belajar kreatif berbentuk Co-design WorkshopI.  Alun Ulin menerima penghargaan sebagai 5 besar Kopernik AusAID Indonesian Social Innovation Award; 5 besar Anugrah Motekar UNPAD 2013; dan  8 besar Apaidemu Idea Innovation Award dari Pertamina.

Pengalaman dan pencapaian Amanda akan jadi bahan bakar untuk membuat ICD 2016 menyajikan pengalaman yang berbeda dari tahun sebelumnya.

Ini kata Amanda:
Halo, ICD kali ini mungkin akan sedikit berbeda dengan yang lalu lalu, karena:
(1) Kita akan mencoba menghadirkan elemen kultural lain dari industri kreatif Indonesia; seperti Board Game, fotografi, live storytelling, dan [pemutaran] film! Semuanya karya anak bangsa..

(2) Perfomance yang aduhai asiknya dari talenta warga PPI Greater Glasgow  yang semakin meriah dengan tambahan bumbu penampilan Gamelan Naga Mas yang merdu nan teduh di hati.


Satu lagi figur kreatif dan inspiratif di balik Indonesian Cultural Day 2016. Dialah Nisa Ashila Ghaisani, alumni Institut Teknologi Bandung jurusan ilmu seni dan estetika yang sedang melanjutkan studi master sejak tahun 2015 lalu di Glasgow School of Art.

Shila mengambil program MLitt Curatorial Practice in Contemporary Art. Singkatnya, Shila mempelajari ilmu kuratorial – yang seringkali bersinggungan dengan perencanaan pameran seni, ataupun manajemen koleksi institusi ‘cultural heritage’: museum, galeri, serta perencanaan program-program kebudayaan.

Di ICD 2016, Shila merupakan salah satu arsitek konten acara. Shila, yang sebelumnya bekerja di tim Arts and Creative Economy di British Council Indonesia ini berharap gelaran ICD nanti memberikan kesan dari seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pengisi acara hingga pengunjung.

“Ini untuk pertama kalinya warga PPI Greater Glasgow punya kesempatan untuk mengajak audiens tidak hanya melihat tapi juga ikut terlibat dalam acara-acara yang akan diadkaan, sehingga dapat lebih merasakan dan mengapresiasi budaya Indonesia. Sesuai dengan tema kita tahun ini, ‘Experience Indonesia”’.

Meski cukup familiar dengan bidang pagelaran seni, bukan berarti ICD tidak menyuguhkan tantangan bagi Shila. Mulai dari menentukan acara, penjadwalan, kemasan acara, serta mengomunikasikan dengan penanggungjawab per acara adalah hal – hal yang harus diberi ‘checklist’ oleh Shila dan tim.

“Kita harus pintar membaca konten acara seperti apa yang diinginkan audiens, dan juga menyesuaikan dengan apa yang bisa kita tampilkan untuk memberi pengalaman berkesan”, ujar Shila.

Jangan lewatkan Indonesian Cultural Day 2016 di Glasgow persembahan Perhimpunan Pelajar Indonesia Greater Glasgow.

Penulis: Okky Irmanita

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment