Wikan: Tugas Kuliah Selalu Menanti Hingga Masak Sendiri


Mulai September 2015, Wikancahyo Wicaksono resmi menjadi mahasiswa program MSc Operation Management in Engineering di University of Strathclyde, Glasgow, Skotlandia. Ayah 1 anak ini memutuskan mengambil jurusan ini untuk memperdalam pemahamannya di dunia perminyakan. 
Wikan, panggilan Wikancahyo, sudah malang melintang di perusahaan perminyakan tanah air maupun multinasional. Namun, latar belakang studi S1-nya bukanlah dari ‘engineering’. Karena itu, Wikan mengambil studi S2 di bidang tersebut.

University of Strathclyde jadi incaran Wikan karena kampus ini unggul di bidang tersebut. “Design manufacturing and engineering management University of Strathclyde adalah yang terbaik di Britania Raya”, ungkap Wikan.

Masa awal kuliah, Wikan sempat ‘bahagia’ karena di program studinya, penilaian akhir hanya melalui tugas esai alias tidak ada “sit in exam”. Seiring waktu berlalu, ternyata tugas esai ini datang silih berganti. Belum lagi, aturan di anti-plagiarisme di kampusnya sangat ketat. Sehingga Wikan harus lebih teliti dan lebih banyak latihan membaca hingga banyak bertanya. Selain itu, Wikan pun sempat sulit mengelola waktu. “Sebelum kuliah S2, saya bisa tidur jam 10 malam. Tapi saat sudah di Glasgow, saya baru boleh tidur jam 4 pagi untuk mengerjakan tugas”, kenang Wikan.

Selain berkurangnya jam tidur, perubahan lain pada Wikan adalah berkurangnya kecanggungan untuk urusan dapur. “Saya di Jakarta belum pernah masak sendiri. Tapi akhirnya di Glasgow saya sering memasak untuk makan sehari – hari”.

Meski harus adaptasi dengan dinamika perkuliahan, Wikan mengaku takjub dengan metode pengajaran dan struktur kurikulum di program studi yang dia ambil. Wikan menggambarkan: “Tugas kuliah lebih banyak mengenai riset ke perusahaan, bukan hanya teori. Selain itu, di departemen saya, kami lebih diarahkan untuk mengaplikasikan ilmu selayaknya seorang konsultan di perusahaan”.

Menyisihkan Waktu Untuk PPI
“Saya ingin meluangkan waktu untuk berbagi info ke teman – teman calon mahasiswa supaya tidak kesusahan seperti saya. Saya dulu tidak tahu apa – apa tentang Glasgow dan kesulitan mencari akomodasi hingga berujung pada akomodasi yang harganya mahal”, kata wikan saat ditanya apa yang melatarbelakanginya menerima ‘pinangan’ untuk menjadi wakil ketua PPI Greater Glasgow.
Di kepengurusan PPI GG tahu 2015/2016 ini, Wikan menjadi ketua tim yang akan memandu calon mahasiswa baru untuk ‘settle’ di Greater Glasgow. Salah satu bentuknya adalah menyusun buku panduan elektronik yang berisi informasi yang diperlukan oleh calon mahasiswa. Contohnya, panduan memililih akomodasi, mencari makanan halal, dan seterusnya. Akhirnya, Wikan berharap agar selalu terjalin kekompakan antara pelajar Indonesia maupun keluarga Indonesia lain yang berada di area Greater Glasgow. Kenal mengenal sangat perlu, tolong menolong apalagi. Susah senang bersama kita jalani.


Penulis: Okky Irmanita.

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment