Tiffany Imron: Glasgow Paling Pas


Tiffany Imron tidak menyesali pilihannya untuk lanjut dari progam master ke program doktoral di kota yang sama: Glasgow. Baginya, Glasgow tidak terlalu ramai namun tidak terlalu sepi; tidak terlampau metropolitan, tapi bukan seperti pedesaan; sebagian penghuninya tidak terlalu blak - blakan, namun tidak ignorant. “Glasgow buatku pas”, kata arek Suroboyo ini.  

Perjalanan Meraih Beasiswa
Tiffany adalah penerima beasiswa Erasmus. Sebagai penerima beeasiswa ini, TIffany harus berkuliah di dua kota yang berbeda, yang masuk ke dalam keanggotaan Uni Erupa. Program master dijalaninya selama 2 semester di University of Strathcyde, Glasgow dengan jurusan Global Innovation Management dan satu tahun lagi dijalani di University of Aalborg, Denmark.

Perjalanan meraih beasiswa dilaluinya dengan tidak mudah. Sempat 4 tahun bekerja di Indonesia, Tiffany memutuskan meneruskan mimpinya untuk kuliah di luar negeri. “Saya terinspirasi teman kantor saya yang mendapat beasiswa untuk sekolah ke Norwegia”. Keputusan berani pun diambilnya. Keluar dari kantor dan fokus mengikuti seleksi beasiswa.
Awalnya Tiffany mengincar beasiswa BGF (Bourse du Gouvernement Francais) dari Pemerintah Perancis. Kursus bahasa Perancis selama setahun pun dijalaninya. Namun, pada tahap seleksi wawancara, Tiffany gagal.

Gagal sekali tak membuat Tiffany berhenti. Dirinya mencoba melamar beasiswa Erasmus, salah satu beasiswa yang seleksinya ketat, karena kuota penerima per-tahunnya yang sangat terbatas.
“Waktu itu belum banyak sponsor beasiswa seperti saat ini. Penerima beasiswa Erasmus juga sangat sedikit dari negara kita. Setahu saya, cuma saya dan seorang lagi penerima beasiswa Erasmus untuk bidang engineering”, kata Tiffany.

Tiffany pun melakukan pencarian universitas saat itu. Glasgow sudah masuk ke dalam list, karena ayah Tiffany pernah berkunjung ke Glasgow. Karena mendapat ‘referensi’ mengenai kota Glasgow, dan silabus jurusannya cocok, akhirnya Tiffany menjatuhkan pilihan ke University of Strathclyde. Offer dari Strathclyde dikantonginya. Begitu pula dengan beasiswa bergengsi yang akhirnya diraih Tiffany.

Proyek Buku Bersama Prof. Duffy
Gegap gempita Olimpiade London 2012 ingin dirasakan Tiffany secara langsung. “Aku mendaftar untuk bekerja. Sudah ikut tes wawancara, group work test dan seterusnya . Tapi ternyata fee yang kuterima tidak menutupi biaya pengeluaran. Yang termurah hanya tenda di lapangan, jadi aku mundur”, kenangnya. Akhirnya masa liburan Tiffany tidak jadi dihabiskan dengan menjadi bagian dari penyelenggara Olimpiade.

Di tempat terpisah, Profesor Alex Duffy, sedang mencari partner untuk mengerjakan proyek bukunya “The Knowledge Nugget”. Kepala departemen design manufacture and engineering management Strathclyde University ini bertanya ke salah satu mahasiswanya pada suatu siang. Si mahasiswa merekomendasikan Tiffany yang kabarnya batal menjadi volunteer di Olimpiade London.

“Buku The Knowledge Nugget ini bercerita tentang perjalanan kuliah PhD. Perjalanan itu dianalogikan seperti mendaki Gunung Lomond Scotland. Tahun pertama mahasiswa berjalan di tengah kabut – tak bisa melihat jelas jalur pendakian. Tahun kedua adalah yang termudah – kabut lewat dan jalur pendakian mulai landai. Tahun – tahun terakhir kembali sulit, karena jalur pendakian menanjak terus”, urai Tiffany.

Proyek buku bersama Profesor Duffy kelak menjadi titik awal Tiffany untuk menghabiskan waktu lebih lama di Glasgow. Mulanya, Profesor Duffy menawari Tiffany untuk melanjutkan S3. Namun, Tiffany belum yakin. “Saya ke Denmark dulu, nanti saya pikirkan lagi…”, kata penyuka olahraga yoga ini menirukan jawabannya terhadap ‘pinangan’ sang professor.

Studi di Denmark
Tiffany memiliki pilihan untuk kuliah di kota lain di Uni Eropa selain Glasgow. Pilihannya ke Jerman atau ke Denmark. “Akhirnya saya memilih Denmark. Karena kuliah di sana sekalian internship di perusahaan”, ujar Tiffany.

Tiffany pun menghabiskan kurang lebih setahun di Aalborg University, Denmark. Aalborg adalah kota terbesar ketiga setelah Copenhagen dan Aarhus. Di akhir masa studi di Denmark, Tiffany kembali dihubungi oleh Profesor Duffy dan ditawari untuk melanjutkan studi doktoral di University of Strathclyde.

Sang profesor bahkan memberi informasi ada peluang funding dari BAE Systems - perusahaan disain perkapalan di bawah Kementerian Pertahanan Inggirs - yang bisa menjadi sponsor Tiffany. Kebetulan, ada program joint funding antara BAE Systems dan University of Strathclyde. Akhirnya, Tiffany cepat - cepat mengajukan proposal dengan topik riset yang sudah diincarnya. “Dua minggu kemudian, saya dikabari kalau proposal saya diterima”, ungkap Tiffany.

Kabar bahagia ini disusul kabar bahagia lainnya. Tiffany ditawari pekerjaan oleh perusahaan tempatnya magang di Allborg. Bahkan, dara yang hobi memasak ini diberi opsi untuk bekerja di ibukota Denmark, Copenhagen. Sebuah tawaran yang menggiurkan. Terlebih, penghasilan yang ditawarkan terbilang besar. Namun setelah menimbang - nimbang, Tiffany memutuskan melanjutkan studi doktoral, ke tempat hatinya tertambat: Glasgow.

Kembali ke Glasgow
Tiffany lalu memulai lembaran baru di kota yang pernah jadi Europe Capital of Art ini. Untuk mengimbangi ‘kesendirian’nya sebagai mahasiswa S3, Tiffany menemukan hobi baru setelah yoga, yakni Pole Fitness. “Di Indonesia, pole fitness ini kesannya vulgar. Tapi ternyata olahraga ini asik, dan buatku jatuh cinta”, katanya.

Awalnya, Tiffany diajak temannya mencoba olahraga ini secara cuma - cuma. Namun, lama - lama, dirinya malas, karena tempat latihannya jauh. “Ternyata waktu browsing, ada tempat latihan pole fitness di daerah Sauchiehall. Jadi sekarang, bisa 2 hingga 3 kali seminggu latihan”, lanjut Tiffany.

Soal kehidupan akademik, Tiffany merasa beruntung memiliki supervisor yang cocok. Apalagi, keduanya sempat melaksanakan proyek buku bersama. Pasalnya, kunci dari ‘kenyamanan’ menjalani program S3 salah satunya ada di tangan supervisor. Dan Tiffany setidaknya punya 2 unsur ‘kenyamanan’ dalam menjalani hari - harinya sebagai mahasiswa S3. Pertama, supervisor yang encouraging dan ‘sehati’, serta, kota Glasgow, yang disebut Tiffany ‘sangat Jawa’. “Orang Glasgow ramah, senyum, dan suka basa basi”, seloroh Tiffany.

Penulis: Okky Irmanita

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment