Sheyka Nugrahani: Di Balik Pilihannya Mempelajari Mamalia Laut


Sejak tahun 2012, Sheyka Nugrahani Fadela memilih topik karir yang berhubungan dengan satwa liar laut, khususnya mamalia (paus, lumba-lumba, duyung, dan sebagainya). Sebelum memulai kuliah di program MSc Marine Mammal Science di University of St. Andrews, Skotlandia, Sheyka sempat menjadi bekerja di WWF Indonesia sebagai Marine Mammal Conservation Assistant. Di sela kesibukan kuliahnya, gadis asal Jakarta ini mengemban amanah sebagai representasi PPI Greater Glasgow untuk wilayah St. Andrews.

“Di Inggris Raya, kampus ini punya laboratorium atau unit riset terbesar khusus penelitian terkait mamalia laut. Nama lab-nya Sea Mammal Research Unit, di bawah naungan Scottish Ocean Institute. Mulai dari peneliti (oseanografer, bioacoustician), statistician, ahli IT, teknisi, insinyur, sampai nama-nama yang berkontribusi di ensiklopedia dan textbook kuliah–mereka kerja di lab ini,” urai Sheyka tentang motivasinya memilih University of St. Andrews.

Kenapa Mamalia Laut
“Bosku, Drh. Dwi Suprapti, sangat inspiratif. Beliau dikenal juga sebagai Ibu Penyu,” ujar Sheyka saat ditanya sosok yang jadi inspirasi karirnya.

Ketertarikan Sheyka mengambil studi ini juga didasari karena potensi eksplorasi satwa liar laut di Indonesia yang sangat besar. Menurutnya, sudah cukup banyak warga Indonesia yang tertarik dengan satwa-satwa tersebut. Namun fokus mereka seringkali tidak ke arah riset, tapi upaya konservasi yang memang lebih praktis dan sesuai dengan kondisi di lapangan, misalnya banyaknya kejadian mamalia laut terdampar. Jumlah akademisi di Indonesia yang mempelajari mamalia laut pun masih relatif sedikit.

“Saya ingat dulu sulit mencari dosen pembimbing karena di almamater saya, Institut Teknologi Bandung, yang mempelajari satwa liar laut sedikit sekali. Fokus ke topik itu memang lebih sering didominasi oleh Institut Pertanian Bogor dan Universitas Diponegoro.”

Saat ini, menurut Sheyka, baru ada dua orang peneliti bergelar Doktor asal Indonesia yang fokus pada mamalia laut. Peneliti lain yang juga konsisten berkontribusi di topik ini adalah Warga Negara Asing, Dr. Danielle Kreb dan Dr. Benjamin Khan. Dr. Kreb tinggal di Kalimanan Timur dan mendirikan Yayasan Konservasi RASI, sedangkan Dr. Khan seringkali dijumpai di Bali.

Selain memenuhi passion-nya dalam memelajari mamalia laut, Sheyka merasa banyak ilmu penunjang lainnya yang dia serap selama studi. Ia tidak melulu belajar dari sudut pandang Biologi, tapi juga dituntut mahir dalam analisis menggunakan statistik, Matematika, Fisika, dan GIS (Geographic Information System) untuk mempelajari mamalia laut. “Ilmu saya nantinya, insya Allah, bisa diaplikasikan untuk memecahkan berbagai masalah, bahkan bisa diaplikasi ke satwa-satwa liar lainnya”, sebutnya optimis.

Apakah pilihan Sheyka terhadap bidang ilmu ini dilandasi karena kecintaannya pada mamalia laut?
“Tidak semata – mata karena cinta mamalia laut, tapi juga terhadap makhluk hidup lain yang berbagai planet Bumi dengan kita, manusia,” ungkapnya. “Pernah dengar istilah rantai makanan? Elemen dari rantai makanan sangat kompleks, mulai dari plankton sampai predator teratas, misalnya paus pembunuh (killer whale, atau bahasa gaulnya, “orca”). Dari elemen – elemen yang ada itu, saya memutuskan untuk fokus pada mamalia laut, terutama dalam mempelajari dampak kegiatan manusia ke lingkungan.”

Berbicara mengenai riset mamalia laut, tidak menutup kemungkinan bahwa Sheyka bisa mengeksplor dan memberi sumbangsih bagi bidang konservasi, biomedik, hingga industri minyak dan gas. Bagaimana? “Banyak hal terkait fungsi organ-organ di tubuh mamalia laut yang menarik bagi peneliti yang ingin tahu cara memperpanjang hidup manusia atau menghindari penyakit jantung dan pernapasan, misalnya. Di bidang migas, ilmu tentang mamalia laut bermanfaat untuk mengetahui dampak kegiatan migas pada ekosistem laut,” urainya.

Sejauh ini, Sheyka mengaku menjalani berbagai mata kuliah yang menantang. Namun, di antaranya, yang paling disukainya adalah Current Issues in Animal Behaviour. “Tipe kelasnya diskusi, jadi ngebahas tentang seberapa pintarnya lumba-lumba dan mamalia lainnya, tentang apakah mamalia laut itu punya bahasa seperti manusia, dan lain lain,” kata Sheyka.

“Belum lagi staf pengajar disini adalah peneliti-peneliti aktif dan terkenal di topik mamalia laut, dan beberapa di antaranya adalah pencipta software dan hardware yang sering dipakai di penelitian terkait satwa liar laut. Rasanya komplit sudah.”

Warna Warni Menjadi Pelajar di St. Andrews
Sheyka seringkali membagi pengalaman sehari – harinya sebagai seorang muslimah di forum Islamic Study Circle yang berisi mahasiswa muslim perempuan, yang sedang atau sudah studi di Glasgow. Di bulan – bulan pertama, peraih beasiswa Chevening ini sempat ‘terperangkap stereotype’.

“Andaikan tidak pernah ke Skotlandia, mungkin sulit bagi saya untuk tahu bahwa tidak semua orang Barat meminum alkohol, vegetarian, obesitas, suka pesta, sumpah serapah, bersikap individualistis, menganut kepercayaan sekuler, Islamophobic, dan lain-lain”, curhatnya.

Seiring berjalannya waktu, Sheyka semakin peka dan bisa memberi jarak antara stereotip dan kenyataan seiring dengan semakin seringnya ia berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Sheyka merasa bersyukur karena menikmati momen kehidupan akademiknya di tengah toleransi dalam gaya hidup di St. Andrews.

“Jejaring pertemanan dan kerabat saya menjadi jauh lebih luas. Pemahaman tentang toleransi beragama dan berbudaya juga jauh lebih baik,” kisahnya. “Saya juga belajar gaya komunikasi dan bergaul yang jauh lebih apresiatif. Orang-orang di St Andrews sopan dan santun!”

Selain belajar di kelas ataupun di lab, dan berinteraksi dengan orang – orang sekitar, Sheyka juga tidak lupa memanfaatkan leisure time – nya untuk menyalurkan hobi di bidang seni.  Melukis, misalnya, adalah salah satu hal yang ia lakukan di waktu luang. Selama setahun ke di Skotlandia pula, Sheyka melukiskan pengalaman dan jalan menuju cita – citanya, untuk berkontribusi pada pengembangan mamalia laut, salah satu kekayaan laut Indonesia.

Penulis: Okky Irmanita

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment