Isnia Fitrisanti: Bakal Jadi yang Pertama


Berlian Isnia Fitrasanti meraih dua titel sarjana yakni sarjana hubungan internasional sekaligus sarjana kedokteran. Isnia, panggilan akrabnya, lalu memilih melanjutkan karir di bidang kedokteran dan meraih gelar dokter. Sejak tahun 2004 hingga saat ini, Isnia tercatat sebagai salah satu dosen di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Bandung.

Penggemar serial X-Files ini sempat terpikir untuk menjadi kriminolog dan berkeinginan melanjutkan studi di jurusan kriminologi di Universitas Indonesia. Kesempatan untuk bersentuhan dengan kriminologi akhirnya didapatkannya lewat kesempatan untuk studi Master of Forensic Medicine di University of Dundee pada tahun 2008.

“Ga salah milih [studi master] di Dundee. Walau dosen yang ngajar cenderungnya hanya satu orang, tapi aku dapat ‘banyak’, karena aku sebagai mahasiswa diharuskan ikut otopsi juga. Dari otopsi – otopsi itu, banyak sekali yang aku pelajari dan tidak kudapatkan saat pendidikan spesialis dulu. Gara – gara itu juga, aku ingin mengubah proses pendidkan spesialis seperti di sini: residen harus belajar patologi anatomi sebelum belajar otopsi”.

Isnia merasa patologi manusia sangatlah kompleks tapi di sisi lain juga sangat perlu untuk mendukung data saat proses otopsi.

Terkait otopsi, Isnia juga mengiyakan saat dikonfirmasi apakah pilihan profesinya ini sering dipersepsikan ‘menakutkan’. Yang menarik, penyuka jalan – jalan ini ternyata lebih berani menghadapi mayat ketimbang ‘makhluk hidup’.

“Berhubungan dengan pasien hidup seems to be not my choice of career… Itu aku rasain waktu koas. Waktu itu aku disuruh periksa pasien, sebagaimana lazimnya dokter umum. Tapi di situ aku sadar, it’s not for me. Aku ga suka praktek”, tutur Isnia.

Pengalaman Otopsi
Selain bekerja sebagai dokter dan akademisi, Isnia juga pernah ikut menjadi bagian dari tim Disaster Victim Identification (DVI). Isnia terjun ke lapangan untuk ikut mengidentifikasi korban Tsunami di Pangandaran Jawa Barat tahun 2006. Saat itu Isnia mengaku pekerjaan identifikasi korban bencana sangat menantang.

“Banyak aparat dan warga yang ikut membantu [evakuasi] tapi belum mengerti pentingnya identifikasi. Sempat terjadi insiden salah ambil jenazah. Soalnya, identifikasi belum selesai tapi keluarga korban bersikeras mengambil jenazah”, kenang Isnia.

Selain di DVI, Isnia juga pernah mengotopsi jenazah bayi, momen otopsi yang tidak akan pernah dilupakannya. Menurut Isnia, momen di Cianjur, Jawa Barat itu masih membekas karena mengetuk rasa kemanusiaannya. Sang bayi adalah anak yang tidak diinginkan.

“Bayi itu dikubur di lantai rumah, di bawah kasur. Rasanya miris banget, padahal bayinya menggemaskan”, ungkap Isnia.

Kembali ke Skotlandia
Tahun 2013, Isnia berhasil meraih beasiswa DIKTI untuk melanjutkan studi doktoral di University of Glasgow. Program yang dijalaninya adalah PhD of Forensic Toxicology. Program doktoral ini linear dengan program master yang sebelumnya diambilnya di University of Dundee.

Senang sekali hati Isnia karena bisa kembali ke Skotlandia. Dia merasa penduduk di Skotlandia sangat ramah dan suka menolong. Isnia juga terkesan dengan kebiasaan orang – orang saat di tempat publik.

“Misalnya kita bukain pintu, orang sini akan bilang ‘thank you’. Kalau di Indonesia, kita diam saja”, kata Isnia.

Ada jarak beberapa tahun bagi Isnia dari pendidikan master ke doktoral. Diakuinya sulit untuk mendapat tempat untuk sekolah doktor. Tapi, dirinya tetap berupaya dan pantang menyerah.

“Aku belajar dari film yang based on true story. Judulnya ‘Top Secret (The Billionaire)’. Ceritanya soal pengusaha Tao Kae Noi. Banyak yang bisa didapat dari menonton film. The Wisdom, I mean”.
Pantang menyerah Isnia niscaya akan berbuah manis. Dirinya bakal jadi doktor pertama di bidang forensic toxicology di tanah air. Semangat dokter Isnia..!

Penulis: Okky Irmanita

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment