Herdiana Hakim: Karena Sastra Anak Bukan Hanya Nostalgia


Salah satu alasan berkuliah di luar negeri adalah banyaknya jenis program studi yang bisa dipilih. Apalagi opsi program studi untuk jenjang pascasarjana. Salah satu pelajar Indonesia yang mengambil mata kuliah yang “tidak lazim” adalah Herdiana Hakim. Herdiana saat ini terdaftar sebagai mahasiswa di program MEd Children’s Literature and Literacies University of Glasgow.

“Setiap ada yang tanya aku studi apa, reaksi mereka selalu menarik. Aku sering mendapat komentar seperti ‘unik ya’, ‘aneh ya’, ‘belajarnya apaan tuh?’ sampai ‘terus, nanti kerjanya apa? ‘jadi penulis buku anak?’, seloroh Herdiana.

Sebelum memastikan diri sebagai mahasiswa di program ini, Herdiana sudah mengantongi offer dari perguruan tinggi di Britania Raya, masing masing dari University of Reading dan University of Roehampton. Kedua kampus ini menerima Herdiana untuk program Children’s Literature. Namun, pilihan akhirnya jatuh ke University of Glasgow (UoG). Salah satu alasan utama Herdiana adalah program studi Children’s Literature and Literacies di UoG tidak hanya fokus pada sastra dan teks, tapi juga meluas ke pembahasan soal unsur pedagogic alias metode dan penerapan untuk pendidik. “Jika biasanya sastra anak ada di bawah fakultas sastra, di UoG program ini di bawah School of Education,” imbuhnya.

Program studi Children’s Literature and Literacies di UoG saat ini baru masuk angkatan kelima. Rekan–rekan sekelas Herdi berasal dari berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Chile, Yunani, Taiwan, India, Myanmar, dan Tiongkok. “Menurut kepala program studi, saya adalah mahasiswa Indonesia pertama yang ikut prodi ini.” Teman sekelas Herdiana tidak semuanya penulis sastra anak. “Latar belakang kami beragam, tapi satu hal yang menyatukan kami: kecintaan terhadap bacaan anak.”

Ketertarikan pada Sastra Anak
Herdiana bukan orang awam di dunia penulisan dan penerbitan. April 2015 lalu Herdiana meluncurkan buku berjudul “Kota Lama dan Sepotong Cerita Cinta” yang diterbitkan oleh Gagas Media. Buku fiksi sejarah tersebut bertutur mengenai persahabatan dua perempuan dari era yang berbeda dan menyorot kisah perjuangan Raden Ajeng Kartini. Selain itu, penyuka serial TV Law and Order SVU ini sempat menjabat Redaktur Pelaksana Majalah Media Kawasan selama empat tahun. Herdiana juga menjadi kontributor untuk berbagai majalah seperti Reader’s Digest Indonesia, Best Life Indonesia, Cleo Indonesia, dan Parenting Indonesia.

Dunia sastra adalah perpanjangan dari pengalaman akademik Herdiana. Tahun 2004, Herdiana menjadi mahasiswa jurusan sastra inggris di Universitas Indonesia. Jenjang S2 ditempuh Herdiana di kampus yang sama, namun dengan mengambil jurusan yang berbeda: psikologi. Meski demikian, ketertarikan pada dunia sastra anak membuatnya memadukan studinya di psikologi perkembangan dengan literasi anak. Herdiana pun menyabet gelar MSc dari UI dengan tesis “Pemahaman Tema Moral Cerita Rakyat pada Kanak–Kanak Madya.”

Ketertarikan pada sastra anak sudah disadari Herdiana sejak kecil. Orangtuanya menanamkan pentingnya minat baca sejak dini. Saat menjadi mahasiswa S1 Sastra Inggris, Herdiana sempat mengambil kelas Sastra Anak, dan di momen inilah Herdiana menyadari banyak hal yang bisa dikaji, ditelaah, dan didiskusikan terkait bacaan anak. “Sejak itu aku tahu bahwa buku anak bukan hanya persoalan nostalgia belaka, melainkan lebih besar dari itu,” ungkapnya.
Sastra Anak di Indonesia
Sayangnya, topik sastra anak tidak memasyarakat di tanah air. Bahkan Herdiana berani mengatakan bahwa sastra anak tidak eksis di Indonesia. “Masukan dan kritik konstruktif terhadap buku anak sangat jarang (bahkan nyaris tidak ada, terlepas dari segelintir penelitian skripsi atau tesis yang sulit menemukan jalan keluar dari tembok kampus),” kritik Herdiana.

Dari dunia akademik, menurut Herdiana, kampus-kampus di Indonesia belum memiliki prodi sastra anak. Bahkan, mata kuliah sastra anak di Universitas Indonesia yang dulunya diasuh oleh Dr. Dhita Hapsarani tidak lagi berjalan. Di luar kampus, kegelisahan lain datang karena Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) tak lagi mengapresiasi pegiat sastra anak lewat penghargaan yang sebelumnya merupakan agenda rutin. “Penghargaan terhadap buku anak yang dulu rutin diselenggarakan IKAPI kini mandek. Sastra anak tidak menjadi bahan diskusi yang dianggap penting karena masih dianggap remeh dan sederhana,” keluhnya.

Herdiana menggaris bawahi pentingnya sastra anak dari sudut pandang kebutuhan anak Indonesia. Generasi muda di tanah air harus terbiasa dengan teks yang sesuai dengan usia dan perkembangan fisik, kognitif, dan emosi mereka.

Aku ingin bacaan anak di Indonesia bisa lebih beragam secara tema dan lebih berkualitas secara konten sehingga tidak lagi harus menggurui dan tidak memperhitungkan kenikmatan anak saat membaca. Aku juga ingin sekali melihat kritik konstruktif dan diskusi sastra anak tumbuh secara sehat dan subur di negara kita. Ini tidak hanya berlaku bagi buku lho, karena di era modern ini, makna “teks” sudah bergeser menjadi segala sesuatu yang dikonsumsi anak, seperti program TV, film, dan video games.    

Satu hal yang melegakan Herdiana adalah mulai tumbuhnya minat dari insan Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi yang membahas sastra anak. “Saat ini, ada beberapa peminat program sastra anak di Glasgow asal Indonesia yang mengontak kepala programku. Oleh sang profesor, kami diperkenalkan melalui email supaya mereka bisa tanya-tanya lebih banyak dan aku bisa share pengalamanku di sini. Senang, deh!” katanya bersemangat.

Herdiana juga menggawangi www.SiKancil.org, situs yang ia buat pada 2014 untuk menjadi wadah diskusi mengenai dunia sastra anak Indonesia. Situs ini lahir dari kegelisahan akan kurangnya perhatian terhadap teks untuk anak di tanah air, terutama ketika Herdiana mengikuti konferensi bacaan anak di luar negeri dan mendapat pertanyaan mengenai kondisi sastra anak di negara kita.

Herdiana berencana mengambil topik disertasi mengenai konsep “anak” di Indonesia. Penerima beasiswa LPDP ini berharap disertasinya mampu berkontribusi untuk pengembangan sastra anak di tanah air, karena sastra anak yang berkualitas adalah lokomotif untuk kemajuan generasi muda.

Penulis: Okky Irmanita

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment