Febriandita Kusuma: Sekolah Dengan Membawa Keluarga


Mempersiapkan diri sendiri saja sudah menyita waktu dan tenaga, apalagi menyiapkan family atau dependant yang akan ikut selama studi ke luar negeri. Berikut ini, salah satu warga PPI GG, Febriandita Kusuma berbagi mengenai apa saja yang harus disiapkan untuk studi di Greater Glasgow.
Febri adalah mahasiswa pascasarjana di University of Glasgow (UoG) dengan program studi MSc in International Finance. Febri membawa serta suami dan anak perempuanya Malia ke Glasgow. Sebenarnya Febri juga mendapatkan offer dari beberapa kampus di Britania Raya, antara lain dari Leeds, Newcastle, dan Strathclyde. Tapi, Febri merasa, modul di UoG lebih pas dengan kebutuhan dan visinya ke depan.

Setelah mantap menerima ‘tawaran’ dari UoG, Febri pun menyiapkan keberangkatannya. “Hal yang paling esensial ketika studi dengan keluarga adalah membawa anggota keluarganya”, begitu Febri menjawab dengan kocak pertanyaan dari penulis.

Lalu Febri menjawab lagi, kali ini dengan serius. Bahwa yang utama adalah keperluan seperti baju hangat dan obat – obatan ringan seperti minyak kayu putih. Febri tak lupa membawa obat alergi karena anaknya rentan terhadap alergi. Selain itu, Febri menyarankan bagi para orangtua untuk membawa stroller alias kereta dorong jika anak masih kecil. “Soalnya di Glasgow ataupun Britania Raya, kita akan banyak jalan kaki dan anak – anak kemungkinan cepat lelah”, ungkapnya.

Pembuatan Visa
Setelah beli pakaian, obat – obatan, satu hal yang cukup rumit adalah pembuatan Visa. Ada dua jenis visa yang harus dibuat Febri. Pertama, Visa Tier 4 student untuk dirinya. Kedua, visa dependant untuk suami dan puterinya. Secara umum, Febri mengaku pengurusan visanya relatif lancar. Namun, hal yang paling menantang adalah pembuatan dokumen family allowance. “Tahun 2015 lalu untuk dependent kita harus siapkan £460 orang per orang per bulan di rekening bank kita yang bisa meng-cover biaya untuk 9 bulan ke depan. Jadi, butuh sekitar £8000 untuk 2 orang dependent”, jelasnya. Namun saat ini, ada perubahan nominal untuk dana dependent yang bisa diakses di link resmi UK Goverment berikut https://www.gov.uk/government/publications/guidance-for-dependants-of-uk-visa-applicants-tiers-1-2-4-5.

Setelah rekening untuk allowance beres, hal lain sebagai syarat mendapat visa UK adalah rontgent paru – paru (tes Tubercolusis). Namun, untuk anak – anak, rontgen tidak dilakukan. Anak hanya diperiksa oleh dokter khusus di Rumah Sakit yang telah ditunjuk oleh UKVI (UK Visas & Immigration). Untuk Tes TB ini, Febri memberi tips,  “Usahakan memeriksakan anak saaat mereka dalam kondisi sehat atau minimal tidak sedang batuk pilek”.

Di Jakarta, rumah sakit yang ditunjuk untuk pemeriksaan TB adalah RS Premier Jatinegara dan RS Premier Bintaro. Ada dua lagi rumah sakit di Indonesia yang ditunjuk oleh UKVI yakni RS Premier Surabaya dan BIMC Hospital Kuta. “tes TB  di Denpasar cenderung lebih mudah. Appointment lebih cepat, tidak perlu antre lama dan bisa dilakukan di hari Sabtu. Sehingga memudahkan bagi applicants yang sudah bekerja. Jika beruntung seperti saya, hasil tes sudah bisa diambil di hari berikutnya”, ungkapnya. Informasi resmi terkait tes TB sebagai syarat visa ada di link berikut https://www.gov.uk/government/publications/tuberculosis-test-for-a-uk-visa-clinics-in-indonesia/tuberculosis-testing-in-indonesia .

Dokumen yang harus disiapkan berikutnya juga penting. Tak hanya untuk aplikasi visa, dokumen ini juga seringkali dibutuhkan untuk keperluan registrasi di kampus ataupun untuk keperluan lain di luar negeri. Sehingga dokumen asli ini harus disiapkan beserta dokumen yang sudah diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah (sworn translator):
  • Paspor
  • Akta kelahiran asli dan translasi
  • Ijasah asli dan translasi
  • KTP asli dan translasi
  • Kartu keluarga asli dan translasi
  • Buku nikah asli dan translasi
  • Pas foto dengan latar biru muda
  • Bukti booking tiket
  • Hasil tes TB
  • Bukti pembayaran IHS


Di list terakhir ada “bukti pembayaran IHS”. Yap, IHS ini kepanjangannya Immigration Health Surcharge. Warga negara dari luar UK diwajibkan membayar ini sebagai bagian dari aplikasi visa. Pelajar membayar £150 per tahun. Sementara dependent membayar dengan jumlah sama dengan pelajar. Setelah membayar IHS dan diterima aplikasi visanya, warga negara non UK akan mendapat fasilitas kesehatan National Health Service (NHS) setara dengan warga UK. Info resmi soal IHS: https://www.gov.uk/healthcare-immigration-application/how-much-pay.

Setelah sukses membayar IHS dan mengisi aplikasi visa, maka pelamar bisa memilih waktu wawancara visa. Wawancara, pengumpulan dokumen dan foto biometrik dilakukan di hari yang sama bertempat di (Visa Application Centre (VFS). Di Indonesia, VFS ini ada di lantai 2 Mal Kuningan City. VFS adalah pihak ketiga yang menerima dokumen visa dan hal teknis terkait. Namun, keputusan visa terbit atau tidak tetap di tangan UK Embassy. Pelamar bisa berlangganan SMS yang berisi progress aplikasi visa. SMS langganan ini diberi tarif Rp 25.000 dan ditawarkan oleh staf VFS saat menerima dokumen asli pelamar. Contoh kemudahan dari layanan SMS ini adalah saat visa decision sudah ada. Pelamar bisa langsung mengambil dokumen asli kembali beserta paspor yang sudah ditempeli visa di kantor VFS pada hari kerja sampai dengan jam 17.00 WIB.

Mencari Akomodasi
Tantangan berikutnya bagi pelajar yang membawa keluarga adalah mencari akomodasi alias tempat tinggal. Hal ini diakui Febri sebagai hal paling ‘ribet’. Berdasarkan pengalamannya, Febri mengambil kesimpulan kalau urusan ini akan lebih mudah jika pelajar berangkat lebih dulu, mendapat tempat tinggal yang sesuai incaran, lalu keluarganya datang menyusul. “Namun, saya mengambil kuliah master yang notabene hanya satu tahun masa studi. Kalau anak saya menyusul, dia akan semakin terlambat masuk sekolah. Perkuliahan saya mulai September, sementara sekolah di sini sudah mulai sejak bulan Agustus”, kenang Febri.

Akomodasi kini bisa di’riset’ lewat beberapa situs online seperti spareroom, rightmove, gumtree, dan sejenisnya. Namun, memutuskan untuk menyewa hanya dengan melihat informasi di internet adalah hal yang riskan. Alangkah lebih baik calon penyewa meminta bantuan pelajar lain untuk melakukan viewing sebelum melakukan kesepakatan dengan landlord.
Akomodasi yang disediakan kampus juga menarik. Hanya saja untuk keluarga, akomodasi dari kampus akan membebani keuangan alias sewanya mahal. Selain itu, tidak semua akomodasi kampus bisa disewa oleh keluarga. Ada lagi kelemahan dari akomodasi kampus, yakni kontraknya kurang dari 1 tahun, misalnya hanya dari September sampai Juni.

Tiba di Skotlandia
Visa dan akomodasi akhirnya beres. Febri memutuskan menyewa private flat di Otago Street, 7 menit jalan kaki dari main campus UoG. Flat yang disewanya terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Hari – hari pertama tiba dimanfaatkan Febri dan keluarga untuk adaptasi. “Alhamdulillah, kami sangat senang saat pertama kali datang. Banyak taman, museum, dan perpustakaan, jadi banyak aktivitas berbobot yang bisa dilakukan bersama anak” ungkapnya.

Selain mengunjungi tempat – tempat menarik, Febri juga langsung mendaftarkan Malia ke Primary School. Pendaftaran sekolah anak baru dapat dilakukan setelah anak tiba di Glasgow, sudah memperoleh BRP (British Resident Permit), sudah memiliki tempat tinggal tetap di Glasgow. Tempat tinggal kita akan menentukan di mana anak kita dapat bersekolah (catchment school). Malia tidak mendapat tempat di catchment school-nya karena kami tiba 1 bulan setelah tahun ajaran baru dimulai. Glasgow City Council akhirnya menetapkan Malia sekolah di Garnetbank Primary School. Agak lebih jauh dari flat kami, tapi Alhamdulillah Malia senang sekolah di sana.

Banyak cerita menarik dari sekolah Malia ini. Malia bertemu kawan dari berbagai negara. Mulai dari orang lokal alias Glaswegian (sebutan untuk warga Glasgow), warga keturunan Pakistan, Cina, Spanyol, dan lain – lain. Malia pun cepat beradaptasi, khususnya terkait bahasa. “Sepertinya anak – anak memang cepat belajar bahasa. Alhamdulillah setelah 3 bulan sekolah Malia sudah bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris (bahkan sedikit – sedikit dengan aksen Glaswegian!)”, kata Febri bersemangat.

Adaptasi penting lainnya adalah dengan cuaca. Di Indonesia, sepanjang tahun suhunya rata – rata 28 hingga 31 derajat celcius. Sementara di Glasgow, di musim panas saja, suhu terendah bisa di bawah 10 derajat. Karena itu, Febri membiasakan Malia cepat beradaptasi dengan suhu. Salah satunya yakni dengan mengajak Malia seirng beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, sejak awal, Febri sudah mendaftarkan dirinya dan keluarga ke klinik terdekat yang menerima NHS untuk antisipasi jika dirinya atau anggota keluarganya sakit.

Masih Ingin di Glasgow
September 2016 nanti, seluruh proses perkuliahan Febri di UoG akan berakhir. Namun, tinggal di Glasgow membuatnya dan keluarga ketagihan. Saat penulis bertanya “Jika diberi kesempatan tinggal lebih lama, Anda tertarik kah?”. Febri pun menjawab ”Sangat tertarik..!”.

Alasannya, Glasgow punya segudang fasilitas publik yang nyaman. Mulai dari sarana transportasi, sarana pendidikan anak yang gratis dan berkualitas, dan banyak sarana hiburan yang edukatif seperti taman – taman dan museum.

Untuk soal taman, Febri sekeluarga punya kisah lucu.

Saat awal-awal kami di Glasgow, matahari masih sering bersinar dan cukup hangat untuk ’kelas’ Glasgow. Kami pun mengantar anak bermain di playground di Kelvingrove Park. Karena saat itu kami belum makan siang, akhirnya kami membawa bekal makan siang ke taman dengan menu nasi rendang. Setibanya di taman, kami memilih tempat duduk agak dekat dengan playground dan mulai membuka bekal kami. Tiba-tiba seekor Siberian Husky putih dan besar berlari kencang ke arah kami dan dengan semangatnya terus mengitari tempat kami duduk. Rupanya, Siberian Husky Glasgow pun ngiler sama Rendang. Melihat kami ada seorang Ibu sambil lalu berkata “It’s not a perfect time for picnic”… hahaha”

Demikianlah A-Z persiapan studi di Glasgow bersama keluarga yang dibagikan oleh Febriandita Kusuma. Ada sebuah kata mutiara ”Keluarga adalah mahakarya terbaik dari alam semesta”. Beruntung bagi Febri, bisa berkumpul bersama mahakarya miliknya sembari merengkuh cita – cita akademiknya.

Penulis: Okky Irmanita.

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment