Elizabeth Cahya: Dari Singapura ke Britania Raya


Seusai menamatkan bangku sekolah menengah atas di Catholic Junior College, Singapura, Elizabeth Cahya memantapkan pilihannya untuk studi kedokteran di University of Glasgow (UoG). Eliz, panggilan Elizabeth terkesan dengan kualitas pendidikan kampus – kampus di Eropa. Lalu kenapa Glasgow?. “Banyak sekali dokter terbaik di Mount Elizabeth Hospital Singapura yang merupakan lulusan UoG”, ungkap Eliz.

Dari Singapura ke Britania Raya, Eliz menambah deretan panjang tahun – tahun jauh dari keluarga. Eliz sudah sejak umur 16 tahun hidup jauh dari rumah. “Tapi, sekarang ada kecanggihan teknologi seperti Skype, Facetima, Whatsapp yang membolehkan saya berkomunikasi kapanpun dengan orang – orang tercinta di Indonesia”, sambung Eliz. Untuk menawar rindu tanah air, Eliz mengandalkan santapan Indonesia yang bisa dipesan melalui Bu Ad, salah seorang warga Indonesia di Glasgow.

Adaptasi dengan Glaswegian
Sama dengan umumnya pelajar Indonesia yang sekolah di Glasgow, Eliz juga sempat ‘kaget’ dengan aksen Glaswegian. Pasalnya, Eliz cenderung familiar dengan aksen Amerika maupun Britania yang didapatkannya selama berinteraksi dengan teman – teman sekolahnya di Singapura. “Tapi, seiring berjalan waktu, saya mulai terbiasa dan bahkan sekarang nyaman ngobrol sehari – sehari dengan mereka”, kata Eliz.

Selain bahasa, ada pula kebiasaan menarik yang dilihat Eliz. Eliz melihat warga Glasgow sangat antusias ‘mengejar matahari’. Saat hari cerah, Glaswegian langsung buru – buru berjemur di taman. Kalau di Indonesia ataupun Singapura, kalau hari terik, semua orang langsung buru – buru ke dalam mall untuk berteduh dan merasakan sejuknya pendingin ruangan”, tambah Eliz.

Ikut Kegiatan Kampus dan PPI
Menjadi mahasiswa kedokteran tak membuat Eliz galau untuk memilih kuliah atau organisasi. Eliz berabung dengan tim Frisbee GUSA (Glasgow University Sport). Selain itu, Eliz juga menjadi ketua Indonesian Student Association (INOSOC) di UoG. Bukan hanya aktif di organisasi kampus, Eliz juga mendedikasikan waktunya untuk Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Greater Glasgow. Di PPI GG Eliz dipercaya menjadi salah satu dari tiga wakul ketua.

Eliz melihat PPI adalah organisasi tanpa sekat. Baik mahasiswa S1, S2 atau mahasiswa doktoral sekalipun berbaur. Belum lagi ada saja wawasan yang bisa diserap saat terjadi interaksi di PPI. “Seru saat ngobrol sesama anggota, kita berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Ada saja kehebohan saat kita semua berkumpul”, ungkap Eliz saat ditanya apa bedanya terlibat di organisasi kampus dan PPI.
Eliz, yang baru saja berulang tahun pada 20 Desember lalu ini bercita – cita membuka klinik cuma – cuma di tanah air bagi masyarakat kurang mampu. Eliz terinspirasi oleh dr. Lo Siaw Ging dengan klinik dedikatifnya di Solo, Jawa Tengah. Eliz, dari Singapura ke Britania Raya, semoga terwujud cita – cita pengabdiannya untuk Indonesia.

Penulis: Okky Irmanita

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment