Daniel Agriva: “Memimpin PPI Greater Glasgow Tak Pernah Ada di Benak Saya Sebelumnya”


Saat masih di bangku S1 Pendidikan Dokter Universitas Gadjah Mada, Daniel sudah tertarik dengan otak. Ketika itu, Daniel didapuk menjadi asisten dosen (asdos) di laboratorium anatomi. Selama proses menjadi asdos inilah hal – hal berbau neuro sains menarik minatnya. “Fungsi otak benar – benar masif dan masih banyak topik terkait yang masih aktif diteliti”, ungkap Daniel.

Jadilah Daniel punya mimpi untuk melanjutkan studi master. Usai menjalani sumpah dokter, Daniel hampir mengambil opsi  untuk ikut internship. Namun, setelah tahu internship tidak wajib bagi mereka yang telah menjalani sumpah dokter, Daniel akhirnya semakin bertekad melanjutkan kuliah master. Impiannya semakin dekat tatkala mendapatkan ‘offer’ dari University of Sydney. Orangtuanya pun mengiyakan. Tapi, dorongan untuk bertualang membuat Daniel memutuskan mengambil ‘offer’ dari University of Glasgow. Jadilah Daniel menjadi mahasiswa master untuk program studi Brain Science University of Glasgow (UoG) tahun 2015/2016.

Daniel berharap dengan belajar neuro sains di UoG, dirinya bisa mengambil spesialisasi di bidang neuro, baik neurosurgery maupun neurology. Daniel optimistis karena fasilitas laboratiorium dan pengajar di institusi luar negeri lebih mumpuni. “Institusi di sini sudah menyatukan neuro sains dan psikologi sehingga penelitian kita bisa lebih luas lagi. Sedangkan di Indonesia, hal ini baru dirintis. Semisal di almamater saya, UGM, yang mulai merintis kerjasama prodi kedokteran dan fisiologi untuk riset di bidang ini”.

Tentang PPI
Ada semacam stigma bahwa mahasiswa di bidang sains cenderung enggan bergelut di organisasi. Tapi namanya juga stigma, tidak sepenuhnya hal itu benar. Stigma ini juga terbantahkan, karena Daniel, seorang dokter dan saat ini pelajar di bidang sains, memimpin organisasi pelajar Indonesia yang tak lain adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) wilayah Greater Glasgow (selanjutnya disingkat PPI GG).

Tak pernah Daniel menyangka, dirinya didapuk oleh ‘warga’ PPI GG sebagai pemimpin. “Awalnya saya mau fokus belajar. Saya juga menganggap, memikirkan PPI akan menguras waktu belajar”, kenang Daniel. Namun kemudian, nasib membawa Daniel ke arah yang berbeda seiring dengan berubahnya pandangan Daniel terhadap paguyuban ini. “Kalau semua berpikir hal yang sama, enggan mengorbankan waktu untuk PPI GG, alangkah beratnya langkah calon mahasiswa tahun depan. Padahal saya sendiri merasakan betul manfaat dari PPI GG saat saya mendapat banyak ‘bimbingan’ saat baru merintis hidup di Glasgow”, tutup Daniel.


Daniel dibantu oleh 2 orang wakil ketua dalam struktur kepungurusan PPI GG 2015/2016. Para wakil ketua adalah Bagus Saragih, Wikancahyo Wicaksono, dan Elizabeth Cahya.

Penulis: Okky Irmanita

Humas PPI Greater Glasgow

No comments:

Post a Comment